Ini cerita pengalamanku menyusui anak
pertama. Sebenernya dah lama pengen berbagi cerita ini, tapi nunggu Nabil
selesai masa ASIX nya. Pertama aku jelaskan dulu apa itu ASI Eksklusif (ASIX).
ASIX artinya memberikan ASI kepada bayi selama 6 bulan pertama tanpa disertai
tambahan apapun, termasuk air putih, obat-obatan, atau lainnya. Intinya ASI
tok.
Aku mulai cerita ya…
Sejak
awal hamil aku dah komitmen mau memberikan ASIX untuk anakku nanti. Dalam bayanganku akan mudah saja melakukan
itu, toh lumrahnya orang melahirkan pasti akan keluar ASI dan menyusui bayinya
dengan lancar jaya. Belum terpikirkan
bahwa bisa saja ASI belum keluar saat bayi lahir. Aku sering mendengar kejadian ibu baru banyak yang ASInya belum
keluar beberapa hari pasca melahirkan sehingga harus dikasih susu formula
(sufor). Aku langsung searching
gimana itu cara ngadepinnya kalau nanti diriku mengalami hal serupa. Aku ga mau
anakku dikasih sufor, jadinya ga ASIX dong. hehe
Ternyata
eh ternyata, bayi yang baru lahir (ini lahir normal ya bukan premature) mampu
bertahan tanpa asupan apapun selama 2 X 24 jam, bahkan ada yang bilang 3 X 24
jam. Hal tersebut karena bayi masih menyimpan sari-sari makanan di dalam
tubuhnya yang berasal dari plasenta selama di dalam rahim ibunya (Subakti dan Anggraini, 2011; plus sumber
internet). Alhamdulillah, lega masih ada
harapan ngasih ASIX kalau misalnya nanti ASI belum keluar.
Tepat
usia kandungan 38 minggu, bayi mungilku lahir setelah melewati rintangan penuh
perjuangan. Langsung dilakukan inisiasi menyusui dini (IMD), hampir semua
bidan/dokter melakukan ini kalau mereka yang bantu melahirkan. Ternyata benar
perkiraanku, ASI belum keluar pas IMD, tapi mega jangan panik/stress ya, mudah-mudahan
besok pagi ASI keluar (lahirnya dini hari ini).
Aku
disuruh istirahat, tapi malah ga bisa tidur mau ngeliatin bayiku terus. Keesokan harinya ASI belum juga keluar dan
bayiku sudah nangis-nangis, kata bidannya karena lapar jadi mereka mau ngasih
bayiku sufor. Dengan halus aku bilang ga usah aja bu, insya Allah bayinya kuat
sehari ga minum (dalam hati, ya Allah cukupkanlah rezeki untuk anakku,
berikanlah dia rasa kenyang sampai ASI keluar).
Hati-hati nih calon bunda, ini sangat sering
terjadi ketika ibu baru melahirkan dan ASI belum keluar, para dokter/bidan
langsung memberikan sufor, apalagi kalo lahirnya sesar. Padahal mereka tahu
bahwa bayi masih bisa bertahan tanpa asupan selama 48 jam dan mereka
mengkampanyekan ASIX juga (anomali), mungkin efek disponsori oleh produsen sufor kali ya. Dalam kondisi bayi
kita menangis dan ASI belum keluar, kita dalam posisi sulit untuk menolak
tawaran dokter/bidan, tapi sekali lagi tegas katakan tidak pada sufor.
Singkat
cerita, ASI masih belum keluar juga sampai dua hari dan bayiku menangis kencang
terus (mungkin benar karena lapar), disini mulai deh diuji komitmen mau ngasih
ASIX. Suami panik karena bayi nangis
kencang, mertua dah sibuk nyaranin sufor, mau konsul ke bidan takut dikasih
sufor lagi, liat bayiku mulai kuning hari ketiga dan berat badan turun. Ya Allah kuatkanlah bayiku, Engkau
menitipkannya untukku, aku yakin Engkau juga akan memberikan rezekinya lewat
air susu dariku. Jadi masih bertahan tidak mau ngasih sufor.
Hari
ketiga malamnya Alhamdulillah ASI sudah keluar sedikit tapi belum lancar.
Masalah baru datang lagi, bayiku belum mahir menyusu sedangkan perutnya lapar,
jadi nangisnya makin kencang deh. Ini kejadian paling tragis kisah ASIX ini,
bayiku nangis kencang terus ga bisa diam, suami ikutan nangis, mertua dah pada
ga tega denger tangisan cucunya, aku tiba-tiba drop kondisinya karena 2 X 24 jam hanya tidur 4 jam sejak melahirkan, plus
anemia yang mengiringi tambah lemes deh. Jadi tambah susah untuk menyusui
bayiku sayang. Akhirnya asi dipompa dan bayi disuapi pakai sendok,
Alhamdulillah bayiku minum meski sedikit.
Tengah
malam masuk hari ke-4 alhamdulillah bayiku bisa minum asi langsung, bersyukur
banget (dalam hati terus jaga shalawat meski bayi dah menyusui, karena sejak
awal lahir shalawat terus semoga asinya lancar dan bayiku kuat). Besoknya pagi-pagi bayiku nangis kencang
lagi, disusuin langsung nolak. Duh panik lagi ini, tapi tetap tenang mega. Kalo
dirimu ga tenang siapa lagi yang mau nenangin bayi mungil ini. Tapi kok ga mau
tenang juga nih si mungil, masih nangis terus bahkan makin mengkhawatirkan
terutama suamiku.
Kurang
lebih hampir satu jam bayiku menangis kencang, suamiku menyarankan ide yang mau
ga mau harus kuterima meskipun langsung membuat sesak dadaku. Suamiku mengusulkan si mungil disusui oleh kakak
ipar (kebetulan sedang menyusui juga), minimal membuat si mungil tenang dan
sehat. Setelah melewati perang batin
yang cukup hebat, dengan berat hati kuserahkan bayiku untuk disusui. Hari itu aku
menangis sejadi-jadinya karena sesak memikirkan bayiku disusui orang lain. Bagaimana
tidak, aku merasa sangat tidak berguna dan juga membayangkan bayiku akan punya
ibu selain diriku yaitu ibu susunya. Ya Rabb, inikah ujian yang harus kulalui
tuk jadi ibu.
Bayiku tertidur setelah disusui oleh
ibu susunya, aku masih terus menangisi diri sendiri meski sudah ditenangkan
oleh suamiku tercinta. Sambil menangis, pikiranku menerawang pada sirah Nabi
yang menceritakan awal kehidupannya yang juga disusui oleh ibu susu yang luar
biasa. Aku mulai berpikir bahwa memberikan bayiku disusui ibu susu adalah
langkah terbaik saat ini ketimbang harus menyerahkannya pada botol sufor.
Alasanku simple saja, pertama karena hubungan persusuan tertulis jelas dalam Al
quran dan tauladannya pun nyata yaitu Rasulullah. Kedua, karena ASI jauh lebih
baik dibandingkan sufor. Meskipun telah
dikuatkan oleh kedua alasan di atas, dadaku masih sesak seolah belum rela
menerima kenyataan bahwa bayiku akan punya ibu selain diriku. Duh egoisnya
diriku, padahal ini demi bayiku tercinta. Butuh waktu memang untuk menetralkan
perasaan itu, tapi sampai sekarang aku bersyukur mengambil langkah itu
dibandingkan harus memberikan sufor pada bayiku yang baru lahir.
Alhamdulillah setelah hari itu ASI
lancar keluar meskipun beberapa hari harus dipompa karena bayiku belum pinter
menyusui plus masalah puting juga, tapi tetap sembari dilatih menyusui. Waktu
yang baik untuk melatih bayi menyusui adalah pada saat bayi mengantuk. Seminggu
pertama usia si mungil, sungguh hari-hari yang penuh perjuangan, tapi kalau
diingat-ingat ya semua ada hikmahnya untuk kita belajar.
Oh iya, aku lupa cerita tentang
alasanku sangat-sangat tidak mau menggunakan sufor selama masa ASIX, apalgi
bayi baru lahir. ASI adalah makanan terbaik yang sesuai dengan pencernaan bayi
yang belum sempurna. Sufor lebih sulit dicerna dibanding ASI sehingga resiko
gangguan pencernaan pada bayi lebih besar.
Bayi yang diberikan sufor akan rentan dengan resiko alergi, resiko
obesitas, resiko kencing manis, resiko penyakit menahun, dan bahkan kematian. Apa
penyebab sufor beresiko “menyeramkan” seperti itu?, tunggu penjelasannya di
episode selanjutnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar