Translate

Sabtu, 27 April 2013

ASI EKSLUSIF



Ini cerita pengalamanku menyusui anak pertama. Sebenernya dah lama pengen berbagi cerita ini, tapi nunggu Nabil selesai masa ASIX nya. Pertama aku jelaskan dulu apa itu ASI Eksklusif (ASIX). ASIX artinya memberikan ASI kepada bayi selama 6 bulan pertama tanpa disertai tambahan apapun, termasuk air putih, obat-obatan, atau lainnya. Intinya ASI tok.
Aku mulai cerita ya…
          Sejak awal hamil aku dah komitmen mau memberikan ASIX untuk anakku nanti.  Dalam bayanganku akan mudah saja melakukan itu, toh lumrahnya orang melahirkan pasti akan keluar ASI dan menyusui bayinya dengan lancar jaya.  Belum terpikirkan bahwa bisa saja ASI belum keluar saat bayi lahir. Aku sering mendengar kejadian ibu baru banyak yang ASInya belum keluar beberapa hari pasca melahirkan sehingga harus dikasih susu formula (sufor). Aku langsung searching gimana itu cara ngadepinnya kalau nanti diriku mengalami hal serupa. Aku ga mau anakku dikasih sufor, jadinya ga ASIX dong. hehe
          Ternyata eh ternyata, bayi yang baru lahir (ini lahir normal ya bukan premature) mampu bertahan tanpa asupan apapun selama 2 X 24 jam, bahkan ada yang bilang 3 X 24 jam. Hal tersebut karena bayi masih menyimpan sari-sari makanan di dalam tubuhnya yang berasal dari plasenta selama di dalam rahim ibunya  (Subakti dan Anggraini, 2011; plus sumber internet).  Alhamdulillah, lega masih ada harapan ngasih ASIX kalau misalnya nanti ASI belum keluar.
          Tepat usia kandungan 38 minggu, bayi mungilku lahir setelah melewati rintangan penuh perjuangan. Langsung dilakukan inisiasi menyusui dini (IMD), hampir semua bidan/dokter melakukan ini kalau mereka yang bantu melahirkan. Ternyata benar perkiraanku, ASI belum keluar pas IMD, tapi mega jangan panik/stress ya, mudah-mudahan besok pagi ASI keluar (lahirnya dini hari ini).
          Aku disuruh istirahat, tapi malah ga bisa tidur mau ngeliatin bayiku terus. Keesokan harinya ASI belum juga keluar dan bayiku sudah nangis-nangis, kata bidannya karena lapar jadi mereka mau ngasih bayiku sufor. Dengan halus aku bilang ga usah aja bu, insya Allah bayinya kuat sehari ga minum (dalam hati, ya Allah cukupkanlah rezeki untuk anakku, berikanlah dia rasa kenyang sampai ASI keluar).
Hati-hati nih calon bunda, ini sangat sering terjadi ketika ibu baru melahirkan dan ASI belum keluar, para dokter/bidan langsung memberikan sufor, apalagi kalo lahirnya sesar. Padahal mereka tahu bahwa bayi masih bisa bertahan tanpa asupan selama 48 jam dan mereka mengkampanyekan ASIX juga (anomali), mungkin efek disponsori oleh  produsen sufor kali ya. Dalam kondisi bayi kita menangis dan ASI belum keluar, kita dalam posisi sulit untuk menolak tawaran dokter/bidan, tapi sekali lagi tegas katakan tidak pada sufor.
          Singkat cerita, ASI masih belum keluar juga sampai dua hari dan bayiku menangis kencang terus (mungkin benar karena lapar), disini mulai deh diuji komitmen mau ngasih ASIX. Suami panik  karena bayi nangis kencang, mertua dah sibuk nyaranin sufor, mau konsul ke bidan takut dikasih sufor lagi, liat bayiku mulai kuning hari ketiga dan berat badan turun.  Ya Allah kuatkanlah bayiku, Engkau menitipkannya untukku, aku yakin Engkau juga akan memberikan rezekinya lewat air susu dariku. Jadi masih bertahan tidak mau ngasih sufor.
          Hari ketiga malamnya Alhamdulillah ASI sudah keluar sedikit tapi belum lancar. Masalah baru datang lagi, bayiku belum mahir menyusu sedangkan perutnya lapar, jadi nangisnya makin kencang deh. Ini kejadian paling tragis kisah ASIX ini, bayiku nangis kencang terus ga bisa diam, suami ikutan nangis, mertua dah pada ga tega denger tangisan cucunya, aku tiba-tiba drop kondisinya karena 2  X 24 jam hanya tidur 4 jam sejak melahirkan, plus anemia yang mengiringi tambah lemes deh. Jadi tambah susah untuk menyusui bayiku sayang. Akhirnya asi dipompa dan bayi disuapi pakai sendok, Alhamdulillah bayiku minum meski sedikit.
          Tengah malam masuk hari ke-4 alhamdulillah bayiku bisa minum asi langsung, bersyukur banget (dalam hati terus jaga shalawat meski bayi dah menyusui, karena sejak awal lahir shalawat terus semoga asinya lancar dan bayiku kuat).  Besoknya pagi-pagi bayiku nangis kencang lagi, disusuin langsung nolak. Duh panik lagi ini, tapi tetap tenang mega. Kalo dirimu ga tenang siapa lagi yang mau nenangin bayi mungil ini. Tapi kok ga mau tenang juga nih si mungil, masih nangis terus bahkan makin mengkhawatirkan terutama suamiku.
          Kurang lebih hampir satu jam bayiku menangis kencang, suamiku menyarankan ide yang mau ga mau harus kuterima meskipun langsung membuat sesak dadaku.  Suamiku mengusulkan si mungil disusui oleh kakak ipar (kebetulan sedang menyusui juga), minimal membuat si mungil tenang dan sehat.   Setelah melewati perang batin yang cukup hebat, dengan berat hati kuserahkan bayiku untuk disusui. Hari itu aku menangis sejadi-jadinya karena sesak memikirkan bayiku disusui orang lain. Bagaimana tidak, aku merasa sangat tidak berguna dan juga membayangkan bayiku akan punya ibu selain diriku yaitu ibu susunya. Ya Rabb, inikah ujian yang harus kulalui tuk jadi ibu.
          Bayiku tertidur setelah disusui oleh ibu susunya, aku masih terus menangisi diri sendiri meski sudah ditenangkan oleh suamiku tercinta. Sambil menangis, pikiranku menerawang pada sirah Nabi yang menceritakan awal kehidupannya yang juga disusui oleh ibu susu yang luar biasa. Aku mulai berpikir bahwa memberikan bayiku disusui ibu susu adalah langkah terbaik saat ini ketimbang harus menyerahkannya pada botol sufor. Alasanku simple saja, pertama karena hubungan persusuan tertulis jelas dalam Al quran dan tauladannya pun nyata yaitu Rasulullah. Kedua, karena ASI jauh lebih baik dibandingkan sufor.  Meskipun telah dikuatkan oleh kedua alasan di atas, dadaku masih sesak seolah belum rela menerima kenyataan bahwa bayiku akan punya ibu selain diriku. Duh egoisnya diriku, padahal ini demi bayiku tercinta. Butuh waktu memang untuk menetralkan perasaan itu, tapi sampai sekarang aku bersyukur mengambil langkah itu dibandingkan harus memberikan sufor pada bayiku yang baru lahir.
          Alhamdulillah setelah hari itu ASI lancar keluar meskipun beberapa hari harus dipompa karena bayiku belum pinter menyusui plus masalah puting juga, tapi tetap sembari dilatih menyusui. Waktu yang baik untuk melatih bayi menyusui adalah pada saat bayi mengantuk. Seminggu pertama usia si mungil, sungguh hari-hari yang penuh perjuangan, tapi kalau diingat-ingat ya semua ada hikmahnya untuk kita belajar.
          Oh iya, aku lupa cerita tentang alasanku sangat-sangat tidak mau menggunakan sufor selama masa ASIX, apalgi bayi baru lahir. ASI adalah makanan terbaik yang sesuai dengan pencernaan bayi yang belum sempurna. Sufor lebih sulit dicerna dibanding ASI sehingga resiko gangguan pencernaan pada bayi lebih besar.  Bayi yang diberikan sufor akan rentan dengan resiko alergi, resiko obesitas, resiko kencing manis, resiko penyakit menahun, dan bahkan kematian. Apa penyebab sufor beresiko “menyeramkan” seperti itu?, tunggu penjelasannya di episode selanjutnya. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar