Gangguan interaksi sosial pada autis terdapat minimal 2 (dua)
dari ciri-ciri berikut:
• Dipanggil namanya tidak menoleh, padahal pendengarannya normal.
• Tidak mampu menjalin interaksi sosial non verbal: menghindari
kontak mata, ekspresi muka tidak berekspresi, posisi tubuh, gerak-gerik kurang
tertuju.
• Tidak mau bermain dengan teman sebaya sesuai dengan level usianya.
• Tidak mampu memperlihatkan kepada orang lain tentang ketertarikannya
pada sesuatu.
• Tidak bisa menunjuk dengan jarinya suatu obyek tertentu untuk menunjukkkan ketertarikannya.
• Tidak bisa secara interaktif menirukan gerakan/permainan bersama dengan orang lain, tidak
mampu menuruti instruksi.
Kesulitan dalam
deteksi dini gejala autis adalah adanya inkosistensi, misalnya anak ketika
dipanggil tidak menoleh, namun akan dengan sangat cepat berespon jika mendengar
sesuatu yang disukainya seperti saat iklan di TV atau suara-suara yang menarik
perhatiannya. Ada sebagian anak yang
menghindari kontak mata dan sosial dengan orang selain keluarga, namun dia bisa
akrab dengan keluarga kecilnya. Inkosistensi
ini karena memang gejala pada tiap anak sangat bervariasi tergantung intensitas
gejalanya apakah ringan, sedang atau berat. Inkonsistensi tersebut menyebabkan
kebingungan sebagian orang tua untuk mengenal gejala autis pada anak.
Gangguan perilaku lebih sulit untuk dideteksi, karena
anak normal pun perilakunya sangat bervariasi pada setiap anak. Namun pada kasus autis, terdapat perilaku
khas yang yang berulang. Minimal terdapat satu gejala yang
muncul dari ciri-ciri gangguan perilaku:
·
Adanya
gerakan-gerakan aneh yang khas dan berulang-ulang seperti misalnya
mengepak-ngepakkan lengan (hand flapping),
menggerak-gerakkan jari dengan cara tertentu, atau berputar-putar.
·
Mempertahankan
1 minat atau lebih dengan cara yang sangat khas dan berlebihan, baik intensitas
dan fokusnya
·
Terpaku
pada suatu kegiatan ritualistik/rutinitas yang tidak berguna
Selain
gangguang-gangguan di atas, umumnya penyandang autis kurang dapat mengontrol
emosinya. Dapat menangis atau tertawa tiba-tiba tanpa sebab yang jelas, ngamuk tak
terkendali (tantrum), rasa takut yang tidak wajar (takut pada sesuatu yang
bagi orang normal biasa saja). Namun
gangguang emosi tersebut tidak harus terdapat pada semua penyandang autis,
tergantung dengan jenis autisnya.
Terdapat lima jenis gangguan yang
tergolong ke dalam gangguan autis (Mayus, 2012; autis.info;
anneahira.com;Wikipedia.org):
1. Autistic
Disorder (Autism)
atau yang biasa
disebut autis masa kanak-kanak, ada juga yang menyebutnya true autism atau
childhood autism. Muncul sebelum usia 3 tahun dan
ditunjukkan adanya hambatan dalam interaksi sosial, komunikasi dan kemampuan
bermain secara imaginatif serta adanya perilaku stereotip pada minat dan
aktivitas.
2.
Asperger’s Syndrome. Hambatan perkembangan interaksi
sosial dan adanya minat dan aktivitas yang terbatas, secara umum tidak
menunjukkan keterlambatan bahasa dan bicara, serta memiliki tingkat
intelegensia rata-rata hingga di atas rata-rata.
3.
Pervasive Developmental Disorder – Not
Otherwise Specified (PDD-NOS). Mempunyai gejala gangguan perkembangan dalam
bidang komunikasi, interaksi maupun perilaku, namun gejalanya tidak sebanyak
seperti pada autistic disorder. Kualitas
dari gangguan tersebut lebih ringan, sehingga kadang-kadang anak ini masih bisa
bertatap mata, ekspresi fasial tidak datar, dan bisa diajak bergurau.
4.
Rett’s
Syndrome.
Lebih sering terjadi pada anak perempuan dan jarang terjadi pada anak
laki-laki. Sempat mengalami perkembangan yang normal kemudian terjadi
kemunduran/kehilangan kemampuan yang dimilikinya; kehilangan kemampuan
fungsional tangan yang digantikan dengan gerakan-gerakan tangan yang
berulang-ulang.
5.
Childhood Disintegrative Disorder
(CDD). Menunjukkan perkembangan yang normal selama 2
tahun pertama usia perkembangan, kemudian mengalami kemunduran mendadak dalam
komunikasi, bahasa, sosia, dan keterampilan motorik. Anak menjadi kehilangan semua
keterampilan yang diperoleh sebelumnya dan mulai menarik diri dari semua
lingkungan sosial.
Autisme
berbeda dengan attention deficit hyperactivity disorder (ADHD) atau yang biasa disebut hiperaktif.
Meskipun pada beberapa kasus
autis ada yang disertai hiperaktif, namun keduanya berbeda dan tidak bisa
disamakan penanganannya. Pada anak ADHD,
gejala utamanya ialah gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktifitas, sering
juga disertai inpulsif, tapi tidak mengalami gangguan yang sangat berarti dalam
komunikasi dan interaksi sosial, atau kalaupun
ada, itu sedikit sekali dan bukan merupakan gejala yang utama. Anak ADHD sering dianggap anak nakal pada
masyarakat umumnya (autis.info; komunitas-puterakembara.net).
Variatifnya gejala
serta jenis dan kelompok autis menyebabkan tidak mudahnya dalam diagnosis autis,
membutuhkan kecermatan,
pengalaman dan mungkin perlu waktu yang tidak sebentar untuk pengamatan. Diagnosis yang paling baik adalah dengan cara
seksama mengamati perilaku anak dalam berkomunikasi, bertingkah laku dan
tingkat perkembangannya. Banyak tanda dan gejala perilaku seperti autis yang
disebabkan oleh adanya gangguan selain autis. Oleh karena itu, penting bagi orang tua atau pengasuh untuk cermat mengamati
perkembangan dan behavior anak,
sehingga apabila anak menunjukkan gejala “perbedaan” dengan anak normal umumnya
bisa segera melakukan diagnosa dan mengkomunikasikannya dengan para ahli di
bidangnya.
Cara diagnosa yang paling ideal adalah dengan
memeriksakan anak pada beberapa tim dokter ahli seperti ahli neurologis, ahli
psikologi anak, ahli penyakit anak, ahli terapi bahasa, ahli pengajar dan ahli
profesional lainnya dibidang autisme. Dokter
ahli atau praktisi kesehatan profesional yang hanya mempunyai sedikit
pengetahuan dan wawasan mengenai autisme akan mengalami kesulitan dalam
men-diagnosa autisme. Kadang dokter ahli atau praktisi kesehatan profesional
keliru melakukan diagnosa dan tidak melibatkan orang tua sewaktu melakukan
diagnosa. Kesulitan dalam pemahaman
autisme dapat menjurus pada kesalahan dalam memberikan pelayanan kepada
penyandang autisme yang secara umum sangat memerlukan perhatian yang khusus dan
rumit (Judarwanto, 2009).
Kembali pada cerita anak yang pernah aku amati, aku
memang tidak bisa memastikan itu autis murni ataukah jenis gangguan lainnya,
yang pasti aku yakin dia “berbeda” dari anak-anak normal. Aku sudah pernah berusaha memberitahukan
orang tuanya pada saat anak itu berusia 2 tahun dan masih menunjukkan gejala ”berbeda”,
namun mereka tidak percaya dan tetap menganggap anak mereka normal. Harapanku dengan menulis cerita ini adalah ketika kita melihat ada anak yang “berbeda”,
sadarilah bahwa mereka memang “berbeda dan spesial” sehingga juga butuh
perhatian dan penanganan spesial. Aku
sengaja tidak menuliskan tentang terapi terhadap autisme, karena penanganan
terhadap anak autis harus sesuai dengan kondisi masing-masing anak tergantung intensitas
gejala serta jenis atau kelompoknya.
Sumber:
Prof. Dr.
dr. Sudigdo sastroasmoro, Sp. A (K). 2007. Membina tumbuh kembang bayi dan
balita . Badan penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia.
John W. Santrock. 2011. Masa
perkembangan anak. Jakarta : Salemba Humanika
Note: sebagian kutipan termasuk di dalam sumber dari web.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar