Translate

Senin, 06 Mei 2013

ANAKKU AUTIS??? (part 2)



Gangguan interaksi sosial pada autis terdapat minimal 2 (dua) dari ciri-ciri berikut:
Dipanggil namanya tidak menoleh, padahal pendengarannya normal.
Tidak mampu menjalin interaksi sosial non verbal: menghindari kontak mata, ekspresi muka tidak berekspresi, posisi tubuh, gerak-gerik kurang tertuju.
• Tidak mau bermain dengan teman sebaya sesuai dengan level usianya.
Tidak mampu memperlihatkan kepada orang lain tentang ketertarikannya pada sesuatu.
• Tidak bisa menunjuk dengan jarinya suatu obyek tertentu untuk menunjukkkan ketertarikannya.
• Tidak bisa secara interaktif menirukan gerakan/permainan bersama dengan orang lain, tidak mampu menuruti instruksi.
            Kesulitan dalam deteksi dini gejala autis adalah adanya inkosistensi, misalnya anak ketika dipanggil tidak menoleh, namun akan dengan sangat cepat berespon jika mendengar sesuatu yang disukainya seperti saat iklan di TV atau suara-suara yang menarik perhatiannya.  Ada sebagian anak yang menghindari kontak mata dan sosial dengan orang selain keluarga, namun dia bisa akrab dengan keluarga kecilnya.  Inkosistensi ini karena memang gejala pada tiap anak sangat bervariasi tergantung intensitas gejalanya apakah ringan, sedang atau berat. Inkonsistensi tersebut menyebabkan kebingungan sebagian orang tua untuk mengenal gejala autis pada anak.
            Gangguan perilaku lebih sulit untuk dideteksi, karena anak normal pun perilakunya sangat bervariasi pada setiap anak.  Namun pada kasus autis, terdapat perilaku khas yang yang berulang.  Minimal terdapat satu gejala yang muncul  dari ciri-ciri gangguan perilaku:
·         Adanya gerakan-gerakan aneh yang khas dan berulang-ulang seperti misalnya mengepak-ngepakkan lengan (hand flapping), menggerak-gerakkan jari dengan cara tertentu, atau berputar-putar.
·         Mempertahankan 1 minat atau lebih dengan cara yang sangat khas dan berlebihan, baik intensitas dan fokusnya
·         Terpaku pada suatu kegiatan ritualistik/rutinitas yang tidak berguna
            Selain gangguang-gangguan di atas, umumnya penyandang autis kurang dapat mengontrol emosinya.  Dapat menangis atau tertawa tiba-tiba tanpa sebab yang jelas, ngamuk tak terkendali (tantrum), rasa takut yang tidak wajar (takut pada sesuatu yang bagi orang normal biasa saja).  Namun gangguang emosi tersebut tidak harus terdapat pada semua penyandang autis, tergantung dengan jenis autisnya.
            Terdapat lima jenis gangguan yang tergolong ke dalam gangguan autis (Mayus, 2012; autis.info; anneahira.com;Wikipedia.org):
1.      Autistic Disorder (Autism) atau yang biasa disebut autis masa kanak-kanak, ada juga yang menyebutnya true autism atau childhood autism. Muncul sebelum usia 3 tahun dan ditunjukkan adanya hambatan dalam interaksi sosial, komunikasi dan kemampuan bermain secara imaginatif serta adanya perilaku stereotip pada minat dan aktivitas.
2.      Asperger’s Syndrome. Hambatan perkembangan interaksi sosial dan adanya minat dan aktivitas yang terbatas, secara umum tidak menunjukkan keterlambatan bahasa dan bicara, serta memiliki tingkat intelegensia rata-rata hingga di atas rata-rata.
3.      Pervasive Developmental Disorder – Not Otherwise Specified (PDD-NOS).  Mempunyai gejala gangguan perkembangan dalam bidang komunikasi, interaksi maupun perilaku, namun gejalanya tidak sebanyak seperti pada autistic disorder.  Kualitas dari gangguan tersebut lebih ringan, sehingga kadang-kadang anak ini masih bisa bertatap mata, ekspresi fasial tidak datar, dan bisa diajak bergurau.
4.      Rett’s Syndrome. Lebih sering terjadi pada anak perempuan dan jarang terjadi pada anak laki-laki. Sempat mengalami perkembangan yang normal kemudian terjadi kemunduran/kehilangan kemampuan yang dimilikinya; kehilangan kemampuan fungsional tangan yang digantikan dengan gerakan-gerakan tangan yang berulang-ulang.
5.      Childhood Disintegrative Disorder (CDD).  Menunjukkan perkembangan yang normal selama 2 tahun pertama usia perkembangan, kemudian mengalami kemunduran mendadak dalam komunikasi, bahasa, sosia, dan keterampilan motorik. Anak menjadi kehilangan semua keterampilan yang diperoleh sebelumnya dan mulai menarik diri dari semua lingkungan sosial.
            Autisme berbeda dengan attention deficit hyperactivity disorder (ADHD) atau yang biasa disebut hiperaktif.  Meskipun pada beberapa kasus autis ada yang disertai hiperaktif, namun keduanya berbeda dan tidak bisa disamakan penanganannya.  Pada anak ADHD, gejala utamanya ialah gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktifitas, sering juga disertai inpulsif, tapi tidak mengalami gangguan yang sangat berarti dalam komunikasi dan interaksi sosial, atau  kalaupun ada, itu sedikit sekali dan bukan merupakan gejala yang utama.  Anak ADHD sering dianggap anak nakal pada masyarakat umumnya (autis.info; komunitas-puterakembara.net). 
            Variatifnya gejala serta jenis dan kelompok autis menyebabkan tidak mudahnya dalam diagnosis autis, membutuhkan kecermatan, pengalaman dan mungkin perlu waktu yang tidak sebentar untuk pengamatan.  Diagnosis yang paling baik adalah dengan cara seksama mengamati perilaku anak dalam berkomunikasi, bertingkah laku dan tingkat perkembangannya. Banyak tanda dan gejala perilaku seperti autis yang disebabkan oleh adanya gangguan selain autis.  Oleh karena itu, penting bagi orang tua atau pengasuh untuk cermat mengamati perkembangan dan behavior anak, sehingga apabila anak menunjukkan gejala “perbedaan” dengan anak normal umumnya bisa segera melakukan diagnosa dan mengkomunikasikannya dengan para ahli di bidangnya.
            Cara diagnosa yang paling ideal adalah dengan memeriksakan anak pada beberapa tim dokter ahli seperti ahli neurologis, ahli psikologi anak, ahli penyakit anak, ahli terapi bahasa, ahli pengajar dan ahli profesional lainnya dibidang autisme.  Dokter ahli atau praktisi kesehatan profesional yang hanya mempunyai sedikit pengetahuan dan wawasan mengenai autisme akan mengalami kesulitan dalam men-diagnosa autisme. Kadang dokter ahli atau praktisi kesehatan profesional keliru melakukan diagnosa dan tidak melibatkan orang tua sewaktu melakukan diagnosa.  Kesulitan dalam pemahaman autisme dapat menjurus pada kesalahan dalam memberikan pelayanan kepada penyandang autisme yang secara umum sangat memerlukan perhatian yang khusus dan rumit (Judarwanto, 2009).
            Kembali pada cerita anak yang pernah aku amati, aku memang tidak bisa memastikan itu autis murni ataukah jenis gangguan lainnya, yang pasti aku yakin dia “berbeda” dari anak-anak normal.  Aku sudah pernah berusaha memberitahukan orang tuanya pada saat anak itu berusia 2 tahun dan masih menunjukkan gejala ”berbeda”, namun mereka tidak percaya dan tetap menganggap anak mereka normal.  Harapanku dengan menulis cerita ini adalah ketika kita melihat ada anak yang “berbeda”, sadarilah bahwa mereka memang “berbeda dan spesial” sehingga juga butuh perhatian dan penanganan spesial.  Aku sengaja tidak menuliskan tentang terapi terhadap autisme, karena penanganan terhadap anak autis harus sesuai dengan kondisi masing-masing anak tergantung intensitas gejala serta jenis atau kelompoknya.


Sumber:


Prof. Dr. dr. Sudigdo sastroasmoro, Sp. A (K). 2007. Membina tumbuh kembang bayi dan balita . Badan penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia.
John W. Santrock. 2011. Masa perkembangan anak. Jakarta : Salemba Humanika



Note: sebagian kutipan termasuk di dalam sumber dari web.

Kamis, 02 Mei 2013

ANAKKU AUTIS??? (part 1)



            Setahun yang lalu aku mengamati polah salah satu balita usia 1 tahun yang menurutku diluar kewajaran anak-anak pada umumnya.  Anak tersebut sering tertawa sendiri tanpa sebab, loncat-loncat di atas kasur sambil tertawa-tawa dan menjatuhkan diri secara berulang-ulang, berlari berputar-putar, menonton sangat serius berjam-jam tanpa beralih, tidak berespon ketika namanya dipanggil, tidak tertarik ketika diajak bermain, sering mengepakkan tangan baik ketika menangis ataupun senang, dan sering mengucapkan kata-kata “aneh” berulang-ulang.  Aku merasa ada kelainan pada anak tersebut. Tapi aku belum berani beasumsi terlalu jauh karena perkembangan setiap anak berbeda-beda, sehingga aku hanya masih mengamati saja hingga anak itu berusia 1,5 tahun.  Selama pengamatan tersebut aku stress juga karena aku sudah sangat merasakan keganjilan/kelainan pada anak itu, tapi orang-orang terdekatnya masih menganggap anak itu normal layaknya anak secara umum.  Aku stress karena hanya berpikir dan merasakan sendirian, serta belum adanya dasar yang kuat untuk mendiagnosa apa yang terjadi pada anak itu.  Akhirnya aku bertekad akan searching di perpus google.
            Sebelum sempat ­searching, aku berasumsi bahwa anak tersebut sepertinya mengalami gangguan perkembangan jenis autisme.  Aku berasumsi demikian karena dulu waktu kuliah pernah menjumpai anak autis sehingga sedikit mengenal dan tahu tentang autis.  Untuk memastikan dan eksplorasi pengamatanku terhadap anak itu, aku mencari tahu lebih banyak tentang autis.  Kata kunci yang kugunakan pertama kali adalah “anak umur 2 tahun belum bisa mengucapkan satu kata”, karena memang fakta yang terdapat pada anak itu adalah belum bisa mengucapkan satu katapun yang bermakna atau dapat dimengerti, dan aku belum mau mencari dengan kata kunci “anak autis”. Dari pencarian itu aku mendapatkan informasi bahwa anak umur 12-15 bulan minimal bisa mengucapkan 2-3 suku kata yang bermakna, dan sudah bisa merangkai 2 suka kata dalam satu kalimat pada usia 2 tahun (Denver II, Frankenburg, 1990; Sastroasmoro, 2007; Santrock,2011; anmum.com; ibudanbalita.com; Promina.co.id).
            Mengenali tanda kelainan pada anak bukan hanya pada kemampuan bicara saja, karena anak terlambat bicara belum tentu ada kelainan seperti autis.  Para ibu jangan buru-buru panik kalau anaknya terlambat bicara dibandingkan anak-anak seusianya, namun jangan pula terlalu meremehkan kalau memang anaknya mengalami keterlambatan bicara disertai gejala gangguan perkembangan lainnya.  Harus diwaspadai apabila gangguan terlambat bicara disertai ketidakmampuan anak untuk berkomunikasi secara non-verbal, artinya anak tidak mampu berkomunikasi verbal dan non-verbal.  Hal tersebut dapat menjadi salah satu gejala kelainan perkembangan.  Apabila gangguan bicara disertai gangguan pendengaran harus diwaspadai bahwa anak tersebut kemungkinan bisu, karena anak bisu pasti akan disertai tuli, sebaiknya segera memeriksakan ke dokter jika mengalami hal tersebut.
            Lanjut ke cerita autis, aku berasumsi autis karena pengertian autisme secara bahasa dari kata auto yang artinya sendiri, dan aku melihat anak itu sangat senang menyendiri seolah-olah hidup di dunianya sendiri.  Autisme atau Autistic Spectrum Disorder (ASD) adalah gangguan perkembangan neurobiologis yang kompleks, yang terjadinya atau gejalanya sudah muncul pada anak sebelum berusia 3 tahun (autis.info; komunitas-puterakembara.net). Kelainan ini disebut spektrum autis karena gejalanya sangat bervariasi dan multifaktor.  Sehingga akan sangat sulit menemukan gejala autis pada satu anak akan sama dengan gejala pada anak yang lain, dan tidak semua gejala autis harus ada pada satu orang anak.  Selain gejalanya sangat bervariasi, intensitas gejala autisme juga berbeda-beda, dari sangat ringan sampai sangat berat.  Oleh karena itu, untuk melihat apakah anak kita autis atau tidak sebaiknya jangan hanya dengan membandingkan perkembangan anak kita dengan anak lain. 
            Poin terpenting dalam diagnosa autis adalah pemahaman tentang ciri-ciri utama gejala autis dan kejujuran dari orang tua/pengasuh anak.  Karena masih banyak orang tua yang tidak mau jujur pada diri sendiri bahwa anaknya “berbeda” dengan anak normal, sehingga kurang peka melihat gangguan-gangguan perkembangan pada anak yang menyebabkan sulitnya deteksi dini.  Kebanyakan orang tua dan keluarga menganggap keterlambatan perkembangan adalah hal biasa, apalagi pada anak laki-laki.  Bahkan dokter anak yang kurang concern terhadap tumbuh kembang masih banyak yang “berusaha” membesarkan hati orang tua dengan mengatakan bahwa keterlambatan pada anak laki-laki adalah wajar terjadi. Hal ini mengakibatkan orang tua merasa tenang dan santai saja, padahal bisa jadi anaknya memang mengalami gangguan.
            Gangguan perkembangan pada autisme mencakup tiga aspek utama yaitu gangguan komunikasi, gangguan interaksi sosial, dan gangguan perilaku (autis.info; komunitas-puterakembara.net).  Mengacu pada ketiga aspek tersebut para orang tua dapat mendeteksi dini autis pada anak, sehingga dapat dilakukan intervensi dini (terapi) guna menghilangkan gejala-gejala yang muncul.  Waktu terbaik untuk melakukan terapi adalah pada masa balita (golden ages), karena peluang untuk anak mengalami kemajuan berarti lebih besar (parenting.co.id).
            Gangguan komunikasi yaitu kualitas komunikasinya yang tidak normal, seperti perkembangan bicaranya terlambat, atau sama sekali tidak berkembang; Tidak adanya usaha untuk berkomunikasi dengan gerak atau mimik muka untuk mengatasi kekurangan dalam kemampuan bicara (tidak mampu komunikasi non-verbal); Tidak mampu untuk memulai suatu pembicaraan atau memelihara suatu pembicaraan dua arah yang baik (bisa bicara tapi tidak untuk komunikasi); Bahasa yang tidak lazim “bahasa planet” yang diulang-ulang atau stereotipik; Hanya bisa membeo ucapan orang lain tanpa tahu maknanya (echolalia); Cara bermain kurang imajinatif. Tidak harus semua ciri-ciri gangguan komunikasi di atas ada pada satu anak baru dikatakan autis, minimal 2-3 ciri sudah dapat diwaspadai gejala autis.

*bersambung…

Sabtu, 27 April 2013

ASI EKSLUSIF



Ini cerita pengalamanku menyusui anak pertama. Sebenernya dah lama pengen berbagi cerita ini, tapi nunggu Nabil selesai masa ASIX nya. Pertama aku jelaskan dulu apa itu ASI Eksklusif (ASIX). ASIX artinya memberikan ASI kepada bayi selama 6 bulan pertama tanpa disertai tambahan apapun, termasuk air putih, obat-obatan, atau lainnya. Intinya ASI tok.
Aku mulai cerita ya…
          Sejak awal hamil aku dah komitmen mau memberikan ASIX untuk anakku nanti.  Dalam bayanganku akan mudah saja melakukan itu, toh lumrahnya orang melahirkan pasti akan keluar ASI dan menyusui bayinya dengan lancar jaya.  Belum terpikirkan bahwa bisa saja ASI belum keluar saat bayi lahir. Aku sering mendengar kejadian ibu baru banyak yang ASInya belum keluar beberapa hari pasca melahirkan sehingga harus dikasih susu formula (sufor). Aku langsung searching gimana itu cara ngadepinnya kalau nanti diriku mengalami hal serupa. Aku ga mau anakku dikasih sufor, jadinya ga ASIX dong. hehe
          Ternyata eh ternyata, bayi yang baru lahir (ini lahir normal ya bukan premature) mampu bertahan tanpa asupan apapun selama 2 X 24 jam, bahkan ada yang bilang 3 X 24 jam. Hal tersebut karena bayi masih menyimpan sari-sari makanan di dalam tubuhnya yang berasal dari plasenta selama di dalam rahim ibunya  (Subakti dan Anggraini, 2011; plus sumber internet).  Alhamdulillah, lega masih ada harapan ngasih ASIX kalau misalnya nanti ASI belum keluar.
          Tepat usia kandungan 38 minggu, bayi mungilku lahir setelah melewati rintangan penuh perjuangan. Langsung dilakukan inisiasi menyusui dini (IMD), hampir semua bidan/dokter melakukan ini kalau mereka yang bantu melahirkan. Ternyata benar perkiraanku, ASI belum keluar pas IMD, tapi mega jangan panik/stress ya, mudah-mudahan besok pagi ASI keluar (lahirnya dini hari ini).
          Aku disuruh istirahat, tapi malah ga bisa tidur mau ngeliatin bayiku terus. Keesokan harinya ASI belum juga keluar dan bayiku sudah nangis-nangis, kata bidannya karena lapar jadi mereka mau ngasih bayiku sufor. Dengan halus aku bilang ga usah aja bu, insya Allah bayinya kuat sehari ga minum (dalam hati, ya Allah cukupkanlah rezeki untuk anakku, berikanlah dia rasa kenyang sampai ASI keluar).
Hati-hati nih calon bunda, ini sangat sering terjadi ketika ibu baru melahirkan dan ASI belum keluar, para dokter/bidan langsung memberikan sufor, apalagi kalo lahirnya sesar. Padahal mereka tahu bahwa bayi masih bisa bertahan tanpa asupan selama 48 jam dan mereka mengkampanyekan ASIX juga (anomali), mungkin efek disponsori oleh  produsen sufor kali ya. Dalam kondisi bayi kita menangis dan ASI belum keluar, kita dalam posisi sulit untuk menolak tawaran dokter/bidan, tapi sekali lagi tegas katakan tidak pada sufor.
          Singkat cerita, ASI masih belum keluar juga sampai dua hari dan bayiku menangis kencang terus (mungkin benar karena lapar), disini mulai deh diuji komitmen mau ngasih ASIX. Suami panik  karena bayi nangis kencang, mertua dah sibuk nyaranin sufor, mau konsul ke bidan takut dikasih sufor lagi, liat bayiku mulai kuning hari ketiga dan berat badan turun.  Ya Allah kuatkanlah bayiku, Engkau menitipkannya untukku, aku yakin Engkau juga akan memberikan rezekinya lewat air susu dariku. Jadi masih bertahan tidak mau ngasih sufor.
          Hari ketiga malamnya Alhamdulillah ASI sudah keluar sedikit tapi belum lancar. Masalah baru datang lagi, bayiku belum mahir menyusu sedangkan perutnya lapar, jadi nangisnya makin kencang deh. Ini kejadian paling tragis kisah ASIX ini, bayiku nangis kencang terus ga bisa diam, suami ikutan nangis, mertua dah pada ga tega denger tangisan cucunya, aku tiba-tiba drop kondisinya karena 2  X 24 jam hanya tidur 4 jam sejak melahirkan, plus anemia yang mengiringi tambah lemes deh. Jadi tambah susah untuk menyusui bayiku sayang. Akhirnya asi dipompa dan bayi disuapi pakai sendok, Alhamdulillah bayiku minum meski sedikit.
          Tengah malam masuk hari ke-4 alhamdulillah bayiku bisa minum asi langsung, bersyukur banget (dalam hati terus jaga shalawat meski bayi dah menyusui, karena sejak awal lahir shalawat terus semoga asinya lancar dan bayiku kuat).  Besoknya pagi-pagi bayiku nangis kencang lagi, disusuin langsung nolak. Duh panik lagi ini, tapi tetap tenang mega. Kalo dirimu ga tenang siapa lagi yang mau nenangin bayi mungil ini. Tapi kok ga mau tenang juga nih si mungil, masih nangis terus bahkan makin mengkhawatirkan terutama suamiku.
          Kurang lebih hampir satu jam bayiku menangis kencang, suamiku menyarankan ide yang mau ga mau harus kuterima meskipun langsung membuat sesak dadaku.  Suamiku mengusulkan si mungil disusui oleh kakak ipar (kebetulan sedang menyusui juga), minimal membuat si mungil tenang dan sehat.   Setelah melewati perang batin yang cukup hebat, dengan berat hati kuserahkan bayiku untuk disusui. Hari itu aku menangis sejadi-jadinya karena sesak memikirkan bayiku disusui orang lain. Bagaimana tidak, aku merasa sangat tidak berguna dan juga membayangkan bayiku akan punya ibu selain diriku yaitu ibu susunya. Ya Rabb, inikah ujian yang harus kulalui tuk jadi ibu.
          Bayiku tertidur setelah disusui oleh ibu susunya, aku masih terus menangisi diri sendiri meski sudah ditenangkan oleh suamiku tercinta. Sambil menangis, pikiranku menerawang pada sirah Nabi yang menceritakan awal kehidupannya yang juga disusui oleh ibu susu yang luar biasa. Aku mulai berpikir bahwa memberikan bayiku disusui ibu susu adalah langkah terbaik saat ini ketimbang harus menyerahkannya pada botol sufor. Alasanku simple saja, pertama karena hubungan persusuan tertulis jelas dalam Al quran dan tauladannya pun nyata yaitu Rasulullah. Kedua, karena ASI jauh lebih baik dibandingkan sufor.  Meskipun telah dikuatkan oleh kedua alasan di atas, dadaku masih sesak seolah belum rela menerima kenyataan bahwa bayiku akan punya ibu selain diriku. Duh egoisnya diriku, padahal ini demi bayiku tercinta. Butuh waktu memang untuk menetralkan perasaan itu, tapi sampai sekarang aku bersyukur mengambil langkah itu dibandingkan harus memberikan sufor pada bayiku yang baru lahir.
          Alhamdulillah setelah hari itu ASI lancar keluar meskipun beberapa hari harus dipompa karena bayiku belum pinter menyusui plus masalah puting juga, tapi tetap sembari dilatih menyusui. Waktu yang baik untuk melatih bayi menyusui adalah pada saat bayi mengantuk. Seminggu pertama usia si mungil, sungguh hari-hari yang penuh perjuangan, tapi kalau diingat-ingat ya semua ada hikmahnya untuk kita belajar.
          Oh iya, aku lupa cerita tentang alasanku sangat-sangat tidak mau menggunakan sufor selama masa ASIX, apalgi bayi baru lahir. ASI adalah makanan terbaik yang sesuai dengan pencernaan bayi yang belum sempurna. Sufor lebih sulit dicerna dibanding ASI sehingga resiko gangguan pencernaan pada bayi lebih besar.  Bayi yang diberikan sufor akan rentan dengan resiko alergi, resiko obesitas, resiko kencing manis, resiko penyakit menahun, dan bahkan kematian. Apa penyebab sufor beresiko “menyeramkan” seperti itu?, tunggu penjelasannya di episode selanjutnya.